Aku Terpancing Dengan SPG Semok Yang Gila Sex

0
354

Pagi itu adalah jam pertama, saya duduk di bangku kelas anggota tengah, kulirik kiri dan kanan. tak tersedia yanmg kukenal, tetapi tersedia satu yang menarik perhatianku, seorang gadis cantik duduk tak jauh dariku, dia muncul ramah dan tetap tersenyum, kulitnya sawo matang, tetapi bagiku dia muncul yang paling cantik di kelas. Dia lalu memperkenalkan diri.

“Nama saya Ni Ketut Dede Ariyani, saya guru tari Bali, nama anda siapa? kok ngeliatin tetap sih?”
Aku menjadi keliru tingkah, lalu saya menjawab,

“Maaf ya mbok tut, nama saya Agus, abis ga tersedia yang dikenal sih…”
“Sekarang kan telah kenal,emang usia anda berapa? kok manggil mbok”
“25 mbok, emang kenapa?”
“oh, emang bener anda manggil saya mbok, usia saya 28.”
“Oh…”

Meskipun dia bilang umurnya 28 tetapi dia tidak muncul setua itu, perawakannya lebih pendek dari saya dan badannya sintal. Sejak perkenalan itu kita sering ngobrol berdua pada sementara prajabatan selama 2 minggu itu, smsan dan telpon-telponan, dia juga sering ditengok serupa cowok yang serupa temen-temen saya dipanggil raksasa, Dede bilang sih itu tunangannya, saya kesel juga tetapi apa daya saya hanya dapat senyum, tetapi memang pada sementara itu saya belum merasakan apa-apa.

Pada sementara sehari sebelum saat penutupan dia bilang begini,
“Gus, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?”
“ayuk”, kataku bersama dengan bahagia hati, “emang berkenan kemana mbok?”
“yah, ke bioskop atau kemana gitu.”
“oke..”

saat itu tiba, saya dah siap-siap untuk penutupan dan tak lupa saya mempunyai pakaian ganti, begitu selesai penutupan kita pergi ke bioskop, kita nonton dan sengaja memilih bangku paling pinggir, entah kenapa saya mulai berpikiran kotor, lalu saya memeluk dia, dia tidak menolak. Lalu saya beranikan diri untuk mencium dia, dia jadi menyambut ciumanku bersama dengan hangat. Kami berciuman lama sekali, saya melumat bibirnya bersama dengan penuh nafsu, setelah sebagian menit dia berkata,

“ternyata perasaan gak dapat bohong ya.”
“iya…”
Aku tak curiga ulang untuk memeluk dan menciumnya apalagi saya berani memegang payudaranya dari di dalam bajunya sementara dia juga memegang dadaku, kelanjutannya kita selesai nonton film lalu saya berkata,
“De..putusin cowok anda ya, trus nikah ma aku.”
“Ga dapat gus, saya ma dia dah lebih dari pacaran kita dah biasa begituan, tinggal dibantenin aja kita dah menjadi suami istri…”

Aku kecewa dan marah tetapi ga dapat apa-apa, kelanjutannya saya bilang,
“Terserah.”
Aku tidak pernah ngehubungi dia selama sebagian hari, kelanjutannya saya berpikir normal saya tidak mungkin masuk ke di dalam kehidupannya, yah… saya kelanjutannya menghubungi dia ulang dan kita ngobrol layaknya biasa tanpa tersedia kasus ulang dan pada suatu sementara dia mengajak saya makan di ayam wong Solo.
Aku sebagai orang yang lebih miskin dari dia sadar tidak menolak. Kami pergi kesana tetap kita memesan meja di daerah bebas rokok yang sepi dan tertutup.

Setelah selesai makan, saya dan dia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen. Kami saling mencium, saling melumat dan saling memegang. Aku bicara padanya,
“De, saya pengen bikin cupang di leher kamu.”
“Coba aja!”
Aku coba menghisap lehernya untuk memicu cupang tetapi gagal, dia lalu tertawa sambil berkata,
“He… he… he… bukan gitu caranya, nih saya contohin”, dia mulai beraksi. Entah bagaimana caranya dia mengisap, yang sadar rasanya saya melayang-layang, saya hanya mendesah,
“Ah… ah…”

“Tuh kan, dah merah”, kata dia sambil menunjuk leher aku.
“Dasar… De, kita pulang yuk.”
“ayuk.”
Dede lalu membayar makanan sementara saya segera menuju mobilnya. Sesampai di rumah, pikiranku kacau dikarenakan cupang itu, saya segera nge-sms dia,
“De… saya kepingin cupangnya bukan di leher, saya pengen di dada, saya juga pengen bikin cupang di dada kamu.”

Aku kira dia marah, tetapi dia jadi ngebalas,
“Gus, saya sayang ma kamu, terkecuali anda bikin cupang di dadaku boleh kok, tak hanya itu sebagai isyarat sayang aku, saya pengen 3d.”
“Apaan tuh 3d?”, balasku.
“Diputer, Dijilat trus Dicelupin.”
“Hah!! Beneran? Atau becanda nih?”
“beneran, matang saya main-main.”

“Kapan anda mau? Tapi saya belum pernah lho sayang, apa mesti pake pengaman?”
“Aku pinginnya ga pake, tetapi terkecuali anda curiga lebih baik pake aja, waktunya nanti aja terkecuali tersedia kesempatan, gimana?”
“Oke deh, met istirahat ya sayang…”
“Istirahat apaan saya kan mesti nari di Hotel sayang, nanti terkecuali saya ga balas bermakna saya tetap repot atau tersedia si dia serupa aku.”

“Ya deh, met kerja ya sayang.”
Yah, ini adalah jadwal harian dia, dia adalah seorang penari Bali dan kadang dia nari di hotel kadang jadi sampai ke luar negeri.
Lama saya menunggu sementara itu, kelanjutannya saya mendapat peluang pelatihan 4 hari. Tetapi dikarenakan kecerdikan panitia pelatihan itu hanya 3 hari. Berarti saya hanya miliki sementara 1 hari. Aku segera nge-sms dia,
“De… besok ga ngajarkan? Kita lakukan rancangan kita yuk?”
“ayuk, nanti saya jemput dimana?”
“Jemput saya ditempat pelatihan di Jalan Hayam wuruk.”
“Oke!”

Besoknya saya telah menunggu dia di daerah pelatihan. Beberapa menit kemudian dia tiba. Aku segera naik ke mobilnya dan rubah pakaian di dalamnya. Aku yang telah nafsu lalu bilang,
“Kita berkenan kemana? ayuk”, Dede memakai pakaian yang agak ngepres di badannya, sementara di anggota bawah dia hanya mengenakan kain pantai, dikala saya lirik ternyata dia tidak mengunnakan apa-apa tak hanya kain pantai dan tentu saja cd.
“Jangan gitu, kita makan pernah yuk…”
Kami lalu makan, seterusnya kita menuju bungalow di Kuta, tetapi di awalnya kita telah belanja makan siang khususnya dahulu.

Sesampainya di kamar bungalow, dia lalu menutup pintu, saya yang telah nafsu segera menyerbunya. Dia lalu berkata,
“Ga menjadi ah…”
“Trus kita ngapain kesini?”
“ngobrol sambil tiduran.”
“Enak aja”, saya segera menyerbu dia berusaha melepas bajunya dan kain pantainya, lalu dia bilang,
“Sabar dong sayang.” Dede lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, saya memang telah nafsu liat kemolekan dia menjadi ga perhatikan itu. Akhirnya saya menyerbu dia, kali ini saya tidak menemuka perlawanan berarti, dia telah siap. Aku mencium dia bersama dengan nafsu, lalu melepas bajunya dan kain pantainya, tubuhnya kini hanya ditutupi BH dan CD. Dia lalu bilang,
“Gus… Aku pernah dioperasi di payudara pernah tersedia tonjolannya.”
BHnya saya lepas lalu saya menciumi payudaranya bersama dengan lembut,
“ehm… ehm…”

“Gus… ka… mu… be….bbener lembut… ah ah ahh..”
Desahannya memicu saya bernafsu, lalu saya melepas bajuku dan celana ku sehingga saya telanjang di depan dia, CD diapun kulepas, dia lalu berkata,
“Gus… pake kondom pernah ya sayang…”
Dia lalu memakaikan saya kondom, saya yang tetap awam segera saja memasukkan punyaku ke di dalam vaginanya. Beberapa menit kemudian saya telah keluar, yah dikarenakan saya belum pengalaman, dia melepas kondomku dan berkata,

“Ga apa-apa kan baru pertama.”
Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Aku segera menyentuh payudaranya, kali ini dia lebih pintar dia lalu berkata,
“Gus… saat ini anda di bawah ya, saya yang di atas.”
aku rebah di bawah, dia pelan-pelan memasukkan penisku ke vaginanya,
“uh… enak sekali…”, saya mendesah.
Diapun mendesah,

“Ah… ah… nikmat sekali….ah… ah…”
Goyangannya sungguh-sungguh luar biasa, saya sampai merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, saya memegang payudaranya sambil sesekali menciumnya,
“ah… nikmat sekali rasanya”, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-tiba dia mengejang dan melepas vaginanya sambil terengah-engah.
“Aku belum muncul kok dah selesai De?”
“Cape… dan kayanya dah muncul Gus.”
Aku segera menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya bersama dengan cepat dikarenakan tanggung pkirku, akhirnya,
“ah…”
Spermaku tumpah, saya segera menarik penis ku muncul dan segera mengeluarka spermaku di perutnya. Dede lalu berkata,
“Sekarang gantian, saya yang belum muncul nih.”
“Yah…”

Aku lalu memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.
“ah..ah…ah…ah…”, Dede mendesah keras.
“gimana De, enak kan?”
“enak banget… ah…ah… ah…”
Tiba-tiba dia memeluk saya erat sekali sambil mencium dada saya sampai cupang.
Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.

Kami tetap kontak sebagian minggu, sampai tersedia satu kejadian buruk yang saya dan dia alami. Kami nonton di bioskop berdua dan disudut layaknya biasa, seterusnya kita berciuman, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan dia pun juga sama. Aku memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku

“Ah… ah… ah…” Desahan kita berdua berirama.
Akhirnya tanganku mulai basah dan dia mengejang… Aku serupa sekali belum muncul tetapi film keburu selesai. Di perjalanan pulang kelanjutannya kita ribut, dikarenakan dia mengidamkan pisah dariku dan ulang ke tunangannya. Aku berusaha membela diri tetapi dia telah berketetapan.
Akhirnya kita berpisah dan saya tidak pernah bersua bersama dengan dia sampai kelanjutannya dia menikah bersama dengan tunangannya yang juga penari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here