Cerita Porno Lendir Di Atas Sofa Cinta

0
228

Cerita Porno Lendir Di Atas Sofa Cinta

Pukul 13:50 WIB di Apartment area tinggal Sonny, Hujan tinggal gerimis saja namun cukup menyejukkan di siang hari yg biasanya panas. Rupanya hujan deras tadi memicu perjalanan berasal dari bandara cukup lama. Setelah berkunjung di warung Mas Gendut untuk belanja rokoq kita berdua bergegas ke kamarku yg terletak di lantai 4.

“silakan masuk!” aqu mempersilakan Melda masuk kamarku.

“Tapi maaf yah tempatku berantakan, maklum lelaki”, aqu agak tak enak kecuali Melda tak nyaman di sini.

“Ah anda Son.. biasa aja koq, tempatku di Singapura termasuk gag lebih bagus berasal dari ini”, ujarnya merendah.

Ruangan Apartmentku tak besar, terdiri berasal dari area tamu, satu kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Lumayan buat bujangan.

“Wah!” seru Melda.

“Sofa anda funky bingit warnanya”, Melda rupanya tertarik pada sofaqu yg berwarna kuning itu. Aqu sendiri tak puas dengan warna kuning gara-gara norak sekali. Tapi sofa perlindungan kakakku ini mampu dirubah jadi area tidur cadangan, jadi berguna kecuali ada teman-teman yg menginap di sini.

“Oh ini sofa udah lama, ini diberi sama kakakku, Mbak Widya”, kataqu.

“Its very cool!” Melda segera merebahkan badannya di atas sofa itu. Dari ekspresinya dia layaknya anak kecil yg menemukan mainan lamanya.

“Eh maaf, aqu termasuk punyai sofa warna kuning di apartemenku di Singapur”, kata Melda sembari mengganti posisi duduknya. Dia layaknya sadar kecuali aqu agak terbengong-bengong atas sikapnya tadi.

Aqu ulang memutar otak, bagaimana caranya untuk mendapatkan tropi yg satu ini sebelum Priska menjemputnya. Segala macam cara kupikirkan termasuk memberinya obat perangsang (tapi segera aqu buang berasal dari benakku gara-gara menjadi malu sendiri). Aqu duduk di sampingnya dan menyalakan TV. Melda bangkit dan bertanya,

“Son.. aqu haus anda ada es batu?” Aqu heran dan berkata,

“Di kulkas ada air dingin tuh, anda tak mesti memanfaatkan es batu lagi.” Melda segera mangambil gelas dan sebotol air dingin di kulkas. Aqu memirsa TV sembari kakiku selonjoran di atas meja di depan sofa.

“Eh si Priska masih lama yah meeting-nya?” bertanya Melda sambari duduk di sampingku dan menaikkan kakinya selonjoran di meja.

“Nanti kira-kira jam 3 ato jam 4 selesai, dia bilang sudi telepon koq kecuali udah selesai”, kataqu menjelaskan sembari menghembuskan asap rokoq. Tampak asap rokoq mengepul melenggok bagai badan seorang wanita yg menggoda.

“Kamu sudi termasuk gag?” Melda menawarkan segelas air minumnya.

“Oh nomer thanks.. dingin-dingin begini aqu tak mampu minum es.” Aqu menjawab singkat sembari memperhatikan sepasang kaki Melda yg parkir di sebelah kakiku di atas meja. Tampak gelang kakinya menaikkan manis kakinya yg bagus dan terawat itu.

Terdengar suara Melda yg minum memanfaatkan sedotan berasal dari gelas yg udah habis airnya.

“Srrt.. srrt!” Melda menyedot gelas yg udah kosong. Aqu menoleh ke arahnya dan tanpa kusangka sepasang mata bulatnya sedang menatapku dengan tatapan nakal. Terlihat senyumnya yg kekanak-kanakan sembari bibirnya menyedot sedotan di gelas yg udah kosong itu. Rupanya Melda menggodaqu.

“Kayak anak-anak yah?” ujarnya sembari selalu tersenyum ke arahku. Aqu selalu belum sudi terpancing (soalnya taqut tidak benar kira).

“Iseng bingit sih kamu”, aqu menjawab sembari membalas senyumnya.

“Lagian daripada nungguin Priska lama bingit.” Aqu tambah terkejut, suara Melda sengaja dibikin layaknya merengek manja. Aqu jadi tambah tidak benar tingkah, bingung apakah Melda bener-bener menggodaqu ato memang dia punyai pembawaan manja? Belum habis kebingunganku, tiba-tiba kurasakan kaki Melda menggelitik kakiku.

“Serius bingit sih kamu, biasa aja dong”, ujarnya menggodaqu lagi. Pucuk ditimpa ulam tiba, aqu segera membalas menggelitiki kakinya. Terdengar Melda tertawa tertahan menghindar geli. “Mel..” ucapanku tertahan gara-gara Melda meletakkan jari telunjuknya di atas bibirku memotong perkataanku. “Ssst.. stop talking”, tatapan matanya beralih dan aqu memandang ada gairah di dalam tatapannya. Suaranya terdengar lebih mesra pas nafasnya tambah berat. “Kira-kira anggapan di kepala kita pas ini sama gag yah?” Perkataan Melda itu segara manyalakan lampu di kepalaqu yg dilanda kebuntuan sejak tadi.

Segera aqu mematikan rokoq, menghilangkan gelas yg dipegangnya dan segera membalikkan badan ke arahnya. Melda mengganti posisi duduknya jadi meringkuk, kakinya ditekuk di depan dadanya. Aqu mendekatkan wajahku ke wajahnya tak sabar ingin melumat bibir tipisnya. Tiba-tiba Melda menghindar badanku dengan tangannya dan agak mendorongku menyingkirkan darinya.

“Wait a minute”, katanya.

“Kita laquin tahap by step, OK.” Suara Melda 1/2 memerintah dengan tatapan mata yg kian meredup menghindar gejolak hasratnya.

Aqu ulang berupaya mendekat kepadanya bagaikan seekor pemangsa mendekati mangsanya. Kali ini gerak majuku tartahan oleh kaki kanan Melda yg disodorkan menghindar dadaqu. Melda layaknya menendang secara perlahan hingga ulang mendorongku mundur. Terlihat senyumnya dingin namun penuh gairah ke arahku. Kakinya yg halus dan mulus itu diselipkan ke anggota kemejaqu yg udah terbuka dan aqu merasakan kakinya yg halus membelai dadaqu yg bidang dan agak berbulu. Gerakan kakinya lincah bermain di atas puting dadaqu. Kuraih betisnya lantas lidahku menjadi menjelajahi kaki Melda yg indah dan terawat itu. Mulai berasal dari tumitnya ke anggota engkel lantas ke arah betis anggota bawahnya. Halus dan hangat menjadi di lidahku. Melda kegelian, ujung jari-jari kakinya lebih dari satu kali mengejang menghindar kenikmatan yg menjadi merembet ke atas.

Aqu gemas memandang jari-jari kakinya yg indah berikut lantas kukulum satu persatu. “Iiih”, Melda mengerang lirih menghindar rasa geli bercampur nikmat. Sekitar 3 menit aqu melaqukan legs job ketika Melda yg udah tak tahan ulang membuka ikat pinggangku dan membuka celanaqu dengan penuh hasrat. Aqu segera menarik lepas busana kaos tanpa lengan yg dia kenakan. Terlihat bra hitamnya dan garis payudaranya yg kencang dan ranum.

Begitu celana dalamku terlepas, kemaluanku segera berdiri bagaikan ular kobra yg terusik. Melda sejenak menggigit bibir bawahnya dan memeletkan lidahnya sebelum dia memagut gagang kemaluanku dangan raqusnya tanpa dipegang khususnya dahulu. Kedua tangan Melda merayap ke atas dadaqu sembari sesekali memicu gerakan layaknya mencakar yg memunculkan sensasi tersendiri buatku. Kedua lengan Melda nampak kencang dan pundaknya terlihat cukup atletis (belakangan aqu baru sadar kecuali Melda punyai hobby diving/menyelam). Hangat menjadi pas gagang kemaluanku dikulumnya. Kadang Melda memainkan gagang kemaluanku di dalam mulutnya dengan lidah. Kemudian Melda menciumku menjadi berasal dari gagang kemaluan tetap ke atas hingga bibir kita berdua bertemu dan saling berpagutan dengan permainan lidah yg memabukkan.

Sementara itu Melda melepas celananya namun aqu membuka bra-nya. Tampak buah dadanya yg ranum dan terbentuk dengan sempurna. Payudara Melda tak tergolong besar namun bentuknya serius indah dengan putingnya yg lancip bagaikan melotot ke arahku. kulingkarkan lenganku di pinggangnya yg ramping sembari mendekapkan kedua badan kita yg berciuman. Bagaikan es dan api bertemu membuahkan getaran dahsyat di pada kita. Melda mendongak sembari menggoyg pinggulnya menggesek gagang kemaluanku.

“Oooh Sonnyy.. uffssh”, dia mengerang sembari memejamkan matanya. Aqu menciumi lehernya yg jenjang, lantas telinganya sesudah itu turun ke payudaranya. Aqu memainkan lidahku di ujung puting susunya, “Uuuhh.. yes Soon!” Melda mendekap dan membenamkan wajahku di pada buah dadanya. Tercium wangi aroma badan wanita yg sedang dilanda birahi.

Aqu merebahkan badannya lantas meneruskan eksplorasiku ke anggota bawah. Kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya hingga ke payudaranya. Melda meremas kedua tanganku, menghindar geli yg ditimbulkannya.

“Ssshh.. sshh!” Melda mendesis berulang-kali menghindar kenikmatan itu. Aqu menarik turun celana dalamnya yg berwarna putih dengan motif kupu-kupu berwarna-warni. Sesaat sesudah itu aqu udah berhadapan dengan tropi itu. Lubang kewanitaan Melda yg terlihat tidak tipis dengan bulu-bulu yg sepertinya sering dicukur agar tumbuh rapi.

Sejenak aqu mentaqumi keindahan lubang kewanitaannya, lantas Melda bergerak sedikit mengangkat pinggulnya dan membuka agak lebar kedua pahanya seakan menyodorkan menu utamanya ke wajahku. Aqu memainkan klitorisnya dengan tanganku, pas kujilati kedua pahanya.

“Aaahh.. sshh”, Melda mengerang lirih. Aqu menikmati aroma kewanitaannya yg semerbak seiring keluarnya cairan cinta berasal dari lubang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke lubang kemaluannya sembari menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yg berwarna merah jambu kukulum sembari kumainkan dengan lidahku. Badan Melda menggelinjang bergetar,

“Uuuhffss.. Aaahh!” Melda menjerit menghindar kenikmatan sembari tangannya menggenggam pinggir sofa. Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

“Son.. masukin sekarang.. aqu gag tahan nich..” Melda lirih memohonku untuk segera memasuki badannya. Aqu segera menempatkan badanku di atas badannya yg ramping seksi serta kencang itu. Berdesir darahku memandang Melda terbaring polos telanjang. Kulitnya yg berwarna kemerahan gara-gara terbakar matahari namun selalu mulus dan halus gara-gara dirawat dengan baik hingga menaikkan gairahku. Body Melda agak kurus namun kencang dan atletis mirip-mirip pelari sprinter namun untungnya tak hingga berotot.

“Sonn.. jangan lupa pake pengaman.. aqu tak ingin hamil..” suara Melda yg seksi mengingatkanku.

“Ok, tenang aja..” aqu segera capai dompetku dan mengeluarkan kondom yg selalu kusiapkan di situ. Si junior bersarungkan karet siap tempur! Melda menggenggam gagang kemaluanku dan menuntunnya ke lubang kemaluannya yg merah basah.

Sejenak sempat kudengar Melda mendesis pas capai gagang kemaluanku.

“Uuu.. besar dan kuat”, ujarnya 1/2 berbisik layaknya bicara pada dirinya sendiri. Begitu ujung kepalanya melekat di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yg menjadi menjalar di seluruh badanku. Lalu perlahan aqu dorongkan ke di dalam lubang kemaluannya.

“Uuuhhss.. yess, Soon.. uuffssh”, Melda mengerang sembari mendongakkan kepalanya. Dengan satu stimulan berikutnya gagang kemaluanku udah masuk secara full di dalam lubang kenikmatan Melda yg hangat dan tebal. Melda mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

Aqu menjadi gerakan memompa lubang kemaluannya.

“Yess.. uff Soon”, Melda menjerit halus sembari memejamkan matanya. Gerakanku tambah lama tambah cepat dengan tekanan yg tambah kuat menerobos kedalaman lubang kemaluan Melda yg merespon dengan berdenyut-denyut layaknya memijit gagang kemaluanku. Tiba-tiba Melda membuka matanya dan berbisik lirih,

“Son pindah posisi.. aqu biasa klimaks sembari doggy.” Kami segera pindah posisi, badan Melda membalik di dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa klimaks di dalam posisi ini.

Aqu menuruti permintaan Melda yg sadar di dalam posisi ini aqu jadi mampu memandang postur Melda lebih lengkap. Biarpun Melda ramping, namun dia punyai bokong yg padat dan berisi agar dengan pinggangnya yg ramping tambah memicu bokongnya montok. Aqu segera mengarahkan gagang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi berasal dari belakang.

“Srrt..” tambah lancar penetrasiku kali ini soalnya anggota luar lubang kemaluan Melda udah tambah basah. Melda menggenggam pegangan sofa dengan kedua tangannya. Aqu menciumi lehernya berasal dari belakang sembari terkadang menggigit pundaknya. Ternyata Melda sangat mempunyai pengalaman di dalam posisi ini dia tambah aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku pinggulnya pun bergoyg mengocok gagang kemaluanku.

“Melda.. pinggul anda hebat bingit”, aqu berbisik terengah-engah. Melda menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaqu sembari menggigit bibir bawahnya. Terlihat keringat membasahi wajahnya yg tambah memerah.

Sesaat sesudah itu dia berbisik kepadaqu,

“Faster.. sayg.. lebih cepat!” suaranya dibarengi deru nafas yg memburu. Rupanya dia udah tambah mendekati klimaks. Aqu pun meresponnya dengan gerakan yg lebih cepat dan keras. Kutusukkan gagang kemaluanku tambah di dalam ke lubang kemaluannya seiring perasaan klimaks yg udah diambang.

“Aaahh Uuuh Sssh.. teruus Soon ahh”, Melda menjerit sembari bergerak tambah liar hingga sofa ini bergetar berderik-derik. Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Melda. Gerimis masih turun di luar ketika Melda tiba-tiba menjerit,

“Aaah Uuuhhffsshh.. Soonnyy”, kepalanya mendongak, badannya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat berasal dari lubang kewanitaannya merembes hingga ke buah kemaluanku. Aqu pun melepas jutaan spermaqu menyemprot kencang mencukupi karet kondom yg kupakai.

“Uuu.. yess”, Melda mengakhiri gelombang kenikmatannya.

Sejenak badan kita mengejang dengan lantas rebah lunglai di atas sofa kuning. Melda rebah menelungkup dengan badanku di atasnya. 15 menit sesudah itu kita duduk dan menjadi membereskan busana kami.

“Koq jadi begini yah”, aqu layaknya bicara pada diriku sendiri (sengaja biar tak ketahuan niatnya).

“Tau gag apa sebabnya?” Melda bicara sembari menatap lekat wajahku. Kemudian dia melanjutkan dengan senyum nakalnya yg penuh arti itu,

“Sofa kuning ini.. buat aqu sugesti buat ngelaquinnya.” Aqu masih tak sadar maksudnya, sesudah itu Melda menambahkan,

“Kan udah kubilang, di apartemenku di Singapur aqu punyai sofa kuning”, katanya.

“Terus?” aqu minta penjelasan. Melda menambahkan,

“Pertama kali aqu bercinta di sofa itu dan hingga sekarang aqu selalu melaqukan kegiatan seksualku di sofa itu.” Lalu ia melanjutkan,

“Sofa anda mengingatkanku sama punyaqu di sana, so sofa kuning ini turn me on, buat aqu terangsang.”

Aqu terheran-heran koq mampu begitu? belum selesai keherananku Melda bicara lagi,

“Tapi punyai anda besar termasuk koq, I like it very much”, ujarnya tersenyum sembari berlangsung ke arah kamar mandi. Aqu masih duduk lemas di atas sofa itu ketika HP-ku berbunyi. Ternyata Priska udah selesai dengan presentasinya dan sekarang udah tiba di sini. Dia menunggu Melda di area parkir. Aqu mengantarkan Melda ke bawah dan di tangga Melda sempat berbisik,

“Son.. sofanya jangan anda pindah yah! soalnya kecuali aqu rindu sama sofaqu di Singapur pasti aqu ke sini lagi.” Aha! pasti akan aqu rawat dengan baik. Kalau mesti tak boleh ada orang lain yg duduk di situ selain Melda saja.

Begitulah yg berlangsung di Apartmentku sore itu. Betul-betul story baru yg membuatku semangat. Karena Priska sudi segera pulang sama Melda dan besok dia mesti nampak kota, jadi barang-barang bawaan Melda itu dititipkan padaqu. Biar aqu yg membawanya besok sekalian ke kantor.

Begitulah tiap-tiap Melda rindu pada sofa kuningnya di Singapura maka dia selalu berkunjung ke apartemenku, dan ketika itu pula kita bercinta habis-habisan.

BACA JUGA :

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here