TERKULAI LEMAS SAAT ML DENGAN MANTAN SAMPAI CROT

0
180

Cerita BOKEP77, Cerita Sex Dewasa, Cerita Ngentot Terbaru – Cerita HOT Bergambar – Cerita mesum di mobil dengan mantan ku yang montok sampai crot dengan judul ” Terkulai Lemas Saat ML dengan Mantan Sampai Crot  ” yang tidak kalah serunya dan dijamin dapat meningkatkan libido seks, selamat menikmat.

ML DENGAN MANTAN SAMPAI CROT

Cerita Hot – Namaku adalah Ceme, cerita ngewe ini mengisahkan tentang kenangan yang tidak pernah kulupakan bersama mantanku. Baiklah ceritanya begini. Malam itu aku ingat bulan July. Namun aku lupa tanggalnya, hanya aku ingat harinya adalah hari SABTU MALAM sekitar pukul 21.30. Malam itu bulan purnama, sehingga kami dapat melihat dengan jelas wajah masing-masing. Aku parkirkan mobil ku di pinggir pantai.

“Kemana saja sih lo SELLA? Gue benar-benar kangen deh sama lo”, aku mulai membuka pembicaraan. “Ah yang benar…?” jawab Sella. “Elo sekarang lagi deket sama siapa?” tanyaku. Sella menjawab “Ada lah…, namanya Ptt”. Aku bertanya lagi “Elo sudah ngapain saja sama dia?”

“Kok lu nanyanya gitu sih?” ujar Sella. Aku menjawab “habis waktu gue pacaran sama lu dulu kan nggak lebih dari pas foto doang (cuma ciuman sama megang-megang buah dada), tiap tangan gue mau kebawah, lu tarik lagi ke atas”, Sella terdiam.

Lalu mulailah ia menceritakan bahwa karena pergaulan ia sempat ikut-ikutan dengan teman-temannya sewaktu di SMA swasta. Lalu salah seorang temannya menggunakan kesempatan pada saat Sella sedang setengah fly, temannya itu memerawaninya.

Aku terdiam mendengar ceritanya. Lalu dengan sangat hati-hati aku berkata kepada Sella. “Dari dulu gue sudah bilang sama lu, waktu lu mutusin gue, hati-hati jaga diri lu, jangan ikut-ikutan teman-teman lu yang nggak benar, nanti lu dikerjain sama teman lu sendiri, dan ternyata benar kan?” Lalu Sella menjawab “Iya lo Ceme, coba gue dengerin kata-kata lu waktu itu ya”.

Lalu aku berkata “Ya sudah, yang sudah ya sudah, sekarang lu nyesel nggak?” Sella menjawab “Gue nyesel bukan karena gue sudah nggak perawan lagi, tapi gue nyesel karena perawan gue hilang dengan cara yang gue nggak rela, dan perawan gue hilang bukan dengan orang yang benar-benar gue sayangin, kenapa perawan gue hilang bukan sama lu, kenapa lu gue putusin waktu itu”. Aku terdiam, dia pun terdiam.

Kemudian aku berkata untuk memecahkan suasana yang agak mendung “Ya sudah deh, nggak usah di seselin Sella, sekarang gue menuntut keadilan nih, gue pengen ngerasain juga nih making love sama lu…” Sella menatapku dalam. Dengan cepat aku langsung berkata “Nggak kok Sell…, becanda”. Tanpa kuduga Sella tersenyum, dan ia berkata “Boleh…” Aku tersentak, kaget, senang, tidak percaya.

Aku bertanya “benar nih Sell?”, dan ia hanya tertawa kecil. Kemudian aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan aku dekatkan wajahku ke wajahnya, lalu aku cium bibirnya sejenak, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan tergetar, begitu juga dengan bibirnya. Lalu aku tersenyum, dan ia pun tersenyum.

Kemudian mulailah kami cerita ngalor ngidul, tentang hubungannya dengan Ptt pacarnya, tentang betapa ia dan pacarnya itu sudah sangat jauh hubungannya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku. Sampai pada suatu saat, entah bagaimana mula ceritanya, tiba-tiba aku bertanya kepada Sella. “Sella, tapi jangan marah ya…! Gua mau tanya, barangnya Ptt gede nggak?” Sella agak terperengah lalu Sella tersenyum, dan berkata “Apa-apaan sih lu, kok nanya begituan segala?”.

Aku berkata “Serius nih, gue pengen tau?” Sella bilang sambil malu-malu kucing “Tauk ah!”. Lalu aku berkata padanya “Oke, lu bilang kan lu sudah jauh berhubungan sama Ptt, nah pasti lu kan sudah pernah dong liat punyanya Ptt”. Lalu Sella sambil tertawa kecil menjawab “Iya sudah…”. Lalu ia berkata “Tapi kan gue belom pernah liat punya lo Cem”. Lalu aku berkata “Nah, sekarang gue kasih liat nih ya”.

Belum sempat Sella bereaksi apa-apa tanpa ragu-ragu aku buka zipper (retsletting) celanaku, lalu aku pelorotkan celanaku dan celana dalamku sampai sebatas lutut. Aku mendengar Sella terkejut “Cem… Gilaa!!!.. Itu… apaan tuh?.. Astaga Cem… Guede buanget barang lo?!.. Keker, melengkung ke atas lagi…, itu urat-uratnya saja ampe nonjol-nonjol kayak gitu… iihh ngeri ah…”

Aku hanya tertawa, dan berkata “Ah masak sih Sell segini gede?” Lalu Sell berkata “Ya ampun… Cem, mati deh gue kalau begituan sama lu dengan barang lo yang segede gini, sudah pernah lu ukur belom barang lo Cem? Wah!.. pasti cewek lo ngejerit kalau digituin sama lu dong?..”

Aku menjawab “sudah sih, panjangnya sih gue ukur 17 cm kurang 3 mili, terus garis tengahnya sekitar hampir 3 cm”. Terdengar lagi Sella berkata “Gila… gila…”. Lalu aku berkata “sudah deh, sekarang gedean mana sama Ptt?” Lalu Sella menjawab “Ya ampun Cem, kalau kayak gini mah Ptt nggak ada apa-apanya”.

Lalu aku bertanya lagi kepada Sella“Nah sekarang boleh nggak gue minta jatah gue nih?” Sella terdiam. Akhirnya dengan setengah berbisik namun yakin dan mantap Sella berkata “Boleh deh” Lalu ia tersenyum dan berkata lagi “Tapi nanti masukinnya pelan-pelan ya Cem, gue takut, sakit”, dan aku pun mengangguk dengan segera.

Singkat cerita, kami berdua pindah ke bangku belakang (tengah), dengan pakaian yang sudah terlucuti masing-masing. Aku cium kening Sella terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Sella terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara.

Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang dari sejak pacaran dulu bagiku buah dada Sella adalah buah dada yang terindah, besar, montok, kencang, ukuran 36B, dengan puting yang agak memerah. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras.

Yang kiri… lalu yang kanan… Terdengar ucapan Sella“Cem, lu tau saja kelemahan gue, gue paling nggak tahan kalau dijilat payudaranya…, aahh…” Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, dan tiba-tiba aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Sella“

Sell lu sudah pernah belom dijilatin itu lo? Sella menjawab “Belom…, kenapa?..” Aku menjawab “Mau nyoba nggak?”. Sella mengangguk perlahan. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku arahkan mulutku ke kemaluan Sella yang bulunya lebat, dan kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas.

Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut kelentit Sella. Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Sella“sstt… aahh!!!” Lalu ia berkata “aahh… CEME… gila nikmat benar…, gila… gue baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini… aahh…, gue nggak tahan nih…, sudah deh…”

Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku lalu dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa aku duga ia menyuruhku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya. aahh… kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya.

Lalu aku berkata “Aduh Sell, jangan kena gigi dong… sakit, nanti lecet…” Lalu sambil kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri…, ke kanan…, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin kedalam mulutnya.

Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya. Sampai terdengar suara “Ohk!.. aduh Cem, cuma bisa masuk seperempat…” Lalu aku menjawab “Ya sudah Sell, sudah deh jangan dipaksain, nanti lu muntah…”

Ku tarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di bangku belakang (tengah) Kijang Roverku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu aku pegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, aku tekan lagi agak perlahan, kurasakan sulit kemaluanku menembus lubang kemaluannya.

Aku dorong lagi perlahan, ku perhatikan wajah Sella dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah berkata “sstt… aahh…, Cem, pelan-pelan ya masukinnya, sudah kerasa agak perih nih…” Dan aku pun dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Sella, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaan Sella.

Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras, dan terdengar dari kemaluanku Sella suara “Srrph!” Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Sella, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Sella tersentak kaget, dan aku pun demikian.

Lalu Sella bertanya “Aduh Cem, suara apaan tuh?” Aku menjawab dan menenangkan Sella “Nggak apa-apa, sakit nggak?” Lalu Sella menjawab “Sedikit…” Lalu aku berkata “Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…” dan kurasakan lubang kemaluan Sella sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Sella sudah mulai keluar, dan siap untuk berpenetrasi.

Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Sella tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, aku lihat wajah Sella seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara “sshh… sshh…” Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual…

Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Ku tekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, ku perhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Sella, ku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Sella.

Dan Sella pun merasakannya. Ini aku ketahuai karena Sella pun berkata kepadaku “Aduh Cem, sudah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut gue sudah kerasa agak eneg nih, eneg-eneg nikmat…, gila…, aduh…, barang lo gede banget sih Cem…”

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Sella, dalam benak pikiranku ternyata lubang kemaluan Sella masih sempit, ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Sella besar, panjang dan kekar.

Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Sella pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang kekiri, Sella goyang kekanan, bila kutekan pantatku Sella pun menekan pantatnya.

Namun itu semua aku lakukan dengan perlahan namun teratur dan pasti, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Sella, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Sella merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.

Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku kedepan kebelakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat dimenit ke dua puluh kalau aku tidak salah,

Sella berkata “Aahh Cem…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, gue kayaknya sudah mau keluar nih…” Sella mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…,

tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku “Cem… aahh… mmhhaahh… Aahh…”. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku, aahh… gila… ini nikmat sekali… baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini.

Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan…, tubuhku mengejang… lalu Sella berseru “Cem…, cabut…, keluarin di luar…”. Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan “aahh… ahh…” Aku mengerang tertahan “Ngghh… ngghh…”

Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku, crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot…, sebagian menyemprot wajah Sella, sebagian lagi ke payudaranya, kedadanya, terakhir keperut dan pusarnya… Kami terkulai lemas berdua setelah crot, sambil berpelukan, lalu kudengar Sella berkata

“Cem…, nikmat banget ML sama lu, rasanya beda sama kalau gue gitu sama Ptt. Enakan sama lu, kalau sama Ptt, gue jarang keluar, tapi baru sekali gitu sama lu gue bisa keluar, barang kali karena barang lo yang gede bangeth ya? Gue nggak bakal lupa deh sama malam ini, gue akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis gue”. Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Sell, gue juga, gue nggak bakal lupa”.

Aku antar Sella pulang ke rumahnya. Kami pulang dengan kenangan manis yang tak dapat kami lupakan selama-lamanya. END by www.BOKEP77.netBaca cerita nakal terbaru sebelumnya yang tidak kalah seru dan dapat meningkatkan birahi gairah seks mu yang berjudul istri tetangga yang buas – Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here